There was an error in this gadget

Thursday, October 18, 2012

Tugas sosiologi (1)
 Nama : Bayu Saputra  
Daftar Isi
 1. Sejarah perkembangan sosiologi …………………………………………….
Sebab  munculnya soiologi ……………………………………………
Para perintis sosiologi…………………………………………………
Aguste Comte …………………………………………………
Karl Marx …………………………………………………….
Emile Durkheim ……………………………………………..
Max Weber …………………………………………………..
2. Sifat - Sifat Dasar Sosiologi ………………………………………...................
3. Pokok - pokok bahasan soiologi ……………………………………………….
Fakta social …………………………………………………………. ..
Tindakan social …………………………………………………….......
Khayalan sosiologis …………………………………………………….
Realitas social …………………………………………………………..
4. Teori sosiologi ………………………………………………………………….
Teori, paradigma dan penjelasan sosiologi ……………………………...
Klasifikasi teori sosiologi ……………………………………………….
Tokoh sosiologi klasik ………………………………………………….
Perkembangan mutakhir dalam teori sosiologi ……………………. .
5. Cirri dan hakekat sosiologi …………………………………………………
6. Tujuan mempelajari ilmu sosiologi …………………………………………
7. Daftar pustaka ………………………………………………………………  
SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI 
Sebab muncul nya sosiologi Menurut berger dan berger sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal yang selama ini dianggap sebagai hal yang memang sudah seharus nya demikian, benar, nyata menhadapi apa yang oleh berger dan berger di sebut threats to the taken-for-granted word .manakala hal yang selama ini menjadi pegangan manusia mengalami krisis, maka mulailah orang melakukan renungan sosiologi. Daftar kekuatan social yang mendorong pertumbuhan sosiologi hamper kita jumpai pula dalam buku ritzer. Kekuatan social yg di jabar kan nya ialah : revolusi politik, revolusi industry dan munculnya kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan, dan pertumbuhan ilmu. Para perintis sosiologi Orang - orang yang di anggap oleh Lewis Coser sebagai pemuka pemikiran sosiologi ialah Saint - Simon, Comte, Spencer, Durkheim, Weber, Marx, Sorokin, Mead, Cooley. Doyle paul Johnson menyebutkan Comte, Marx, Durkheim, Weber, Simmel, sebagai tokoh sosiologi klasik. Dalam kajian nya l. laeyendecker menyebutkan nama sejumlah tokoh sosiologi berpendapat bahwa perintis utama sosiologi trdiri atas Comte, Spencer, Durkheim, dan Weber. Aguste Comte ( 1798 - 1857 ) Aguste comte ialah “Bapak” ilmu sosiologi, seorang ahli filsafat dari prancis. Nama “sosiologi” memang merupakan hasil ciptaan comte, suatau gabungan dari kata Romawi yaitu socius dan dari kata yunani yaitu logos. suatu pandangan menarik dari comte ialah bahwa sosiologi menurutnya merupakan “ Ratu ilmu - ilmu social ” Karl Marx ( 1818 - 1883) Karl marx lahir di trier, jerman pada tahun 1818 dari kalangan rohaniawan yahudi. Pada tahun 1841 ia mengakhiri study nya di universitas berlin dengan menyelesaikan disertasi berjudul on the differences between the natural philosophy of Democritus and epicurus. Sumbangan marx bagi sosiologi terletak pada teori nya mengenai kelas yang disajikan dalam berbagai tulisan termasuk di dalam nya the communist manifesto yang di tulis nya bersama friedrich engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Emile Durkheim ( 1885 - 1917 ) Durkheim adalah ilmuan yg sangat produktif. Karya utamanya ialah, antara lain, the division of labour in society , karya pertamanya yg berbentuk disertasi doctor; rule of sociological method. Buku the division of labour society merupakan suatu upaya Durkheim untukmengkaji suatu gejala yang sedang melanda masyarakat : pembagian kerja. Tujuan kajian Durkheim ialah untuk memahami fungsi pembagian kerja tersebut, serta untuik mengetahui penyebab nya. Max Weber ( 1864 - 1920 ) max weber lahir di jerman pada tahun 1864. Ia belajar ilmu hokum di berlin dan universitas Heidelberg dan pada tahun 1889 menulis disertasi berjudul A Contribution to the History of medieval business organazation. Sumbangan weber yang tidak kalah penting ny iyalah kajian nya mengenai konsep dasar sosiologi. Dalam uraian nya weber menyebutkan pula bahwa sosiologi merupakan ilmu yang berupaya memahami tindakan social. SIFAT - SIFAT DASAR SOSIOLOGI 1. Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan social dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian. 2. Sosiologi bukan merupakan ilmu pengetahuan yang normative, melainkan ilmu yang kategiris. Artinya membatassi diri pada kejadian dewasa ini bukan pada apa yang terjadi atau seharusnya terjadi. 3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan (apllied science). Ilmu pengetahuan murni merupakan pencarian akan adanya pengetahuan. Ilmu pengetahuan terapan merupakan pencarian metode - metode untuk menggunakan pengetahuan ilmiah guna memecahkan pengetahuan praktis. 4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak bukan ilmu pengetahuan yang konkrit. Artinya sosiologi hanya memperlihatkan bentuk dan pola - pola peristiwa dalam masyarakat. 5. Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian - pengertian dan pola - pola umum interaksi antar individu. 6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum bukan ilmu pengetahuan khusus. Artinya sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada setiap interaksi antar manusia. POKOK - POKOK BAHASAN SOSIOLOGI Pokok bahasan sosiologi ada empat: 1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. 2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. 3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. 4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan - aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif. TEORI SOSIOLOGI Teori, paradigma dan penjelasan sosiologis. apakah yang dimaksud teori? Jonathan h. turner merumuskan sebagai berikut : “………a mental activity…a process of developing ideas that can allow the scientist to explain why even should occur”. Dalam devinisi turner kita menjumpai kata to explain. Perlu kita perhatikan disini bahwa dalam bidang ilmu kata “ menjelaskan “ ini mempunyai makna khusus, yaitu penjelasan ilmiah ( scientific explanation ) yang inti nya ialah pencarian penyebab. (dalam devinisi diatas turner berbicara mengenai “ to explain why “ menjelaskan mengapa). Merupakan factor yang harus di jelaskan, dan variable bebas yang merupakan factor penyebab. Selain penjelasan kausal di kenalkan pula bentuk penjelasan lain. Durkheim ( 1965 ), missal nya membedakan dua macam penjelasan : penjelasan fungsional, yang terdiri atas suatu fakta social. Sebagai mana juga halnya dengan ilmu - ilmu lain, maka sosiologi pun mempunyai teori nya sendiri ; mempunyai konsep, hipotesis, proporsisi, variablenya tersendiri. Suatu cirri yang dipunyai sosiologi sebagai bidang ilmu ialah bahwa sosiologi mempumyai banyak teori, sosiologi mempunyai banyak paradigma. Talcott parsons, seorang tokoh sosiologi masa kini mengemukakan bahwa masalah yang hendak di pecahkan sosiologi berkaitan erat pada masalah yg di hadapi oleh Thomas hobbes, seorang pemikir inggris yang hidup pada tahun 1588 - 1679. Dimasa hidup hobbes eropa di landa perang terus - menerus. Hobbes menghawatirkan bahwa apabila keadaan ini di biarkan terus - menerus makia umat manusia akan punah. Oleh sebab itu ia kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat terkenal: “ How and why society is possible ?“ mengapa dan bagaimana masyarakat di mungkinkan merupakan pertanyaan yang mendorong hobbes menulis buku berjudul leviathan. KLASIFIKASI TEORI SOSIOLOGI Dalam sosiologi ditempuh berbagai cara untuk mengklasifikasikan teori.Kita telah melihat klasifikasi teori sosiologi klasik dan modern yang didasarkanpada uturan waktu lahirnya teori, yang antara lain ditempuh Johnson (lihat bab1). Collins (1994) pun mengaitkan teori masa kini. Dengan karya pemikir awalsosiologi. Dengan mengacu pada pemikiran tokoh sosiologi seabad yang lalusebagai titik tolak Collins, misalnya, mengidentifikasi empat tradisi sosiologi : (1)tradisi konflik (the conflict tradision) dengan Marx, Engels, Weber, Dahrendotf,Lenski dan Collins sendiri sebagai pemikirnya. (2) tradisi rasional/utiliter (therational/utilitarian tradition) yang dipelopori Homans, March dan Simon,Schelling, Olson, dan Coleman. (3) tradisi Durkheim (rhe Durkheimian tradition)dengan tokohnya seperti Durkheim, Hubert dan Mauss, Levi-Strauss, Goffman, Hagstrom, dan Douglas, dan (4) tradisi mikrointeraksi (the microinteractionisttradition) yang prakarsai Cooley, Mead, Blumer, Mehan dan Wood, danGoffman.Kita pun telah menjumpai klasifikasi makrososiologi-mesososiologi-mikrososiologi yang didasarkan pada luasnya ruang lingkup pokok bahasan.(lihat bab 2 ). Collins (1988) merinci klasifikasi lebih lanjut, dibawah judul teorimakro Collins menempatkan teori evolusionisme, teori sistem, ekonomi politik,konflik dan perubahan sosial, serta teori konflik multidimensi dan stratiffikasi.Teori meso mencakup hubungan mikro-makro, teori jaringan, dan organisasi. Sedangkan teori mikro mencakup ritual interaksi, diri, pikiran dan peranansosial, defenisi situasi dan konstruksi sosial terhadap realitas, strukturalismedan sosiolinguistik, serta pertukaran sosial dan teori terkait.Klasifikasi lain menekankan pada perbedaan aliran pemikiran (lihatRitzer, 1992) aliran-aliran utama (major schools) teori sosiologi yang dicatatRitzer ialah (1) fungionalisme struktural dan teori konflik, (2) berbagai ragamteori sosiologi neo-Marxis, (3) interaksionisme simbolik, (4) sosiologifenomenologi dan etnometodologi, (5) teori pertukaran dan sosiologi perilaku,(6) teori feminis masa kini, dan (7) teori sosiologi struktural, Ritzer kemudianmenguraikan perkembangan mutakhir dalam teori sosiologi, yang mencakupbaik integrasi antara teori jenjang mikro dengan makro maupun sintesis antaraberbagai aliran pemikiran (lihat Ritzer, 1990) TOKOH SOSIOLOGI KLASIK A. AUGUSTE COMTE Memiliki nama panjang Isidore Marie Auguste Fran├žois Xavier Comte. Comte lahir pada tanggal 19 Januari 1789 di kota Monpellier di Perancis Selatan, dari orang tua yang menjadi pegawai kerajaan dan penganut agama Katolik yang saleh. Auguste Comte mengharapkan bahwa segala sesuatu harus dibuktikan secara ilmiah atau empiris. Perjalanan Hidup dan Karya Comte serta Pandangannya tentang Ilmu Pengetahuan. Auguste Comte adalah seseorang yang untuk pertama kali memunculkan istilah “sosiologi” untuk memberi nama pada satu kajian yang memfokuskan diri pada kehidupan sosial atau kemasyarakatan. Saat ini sosiologi menjadi suatu ilmu yang diakui untuk memahami masyarakat dan telah berkembang pesat sejalan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dalam hal itu, Auguste Comte diakui sebagai “Bapak” dari sosiologi. Auguste Comte pada dasarnya bukanlah orang akademisi yang hidup di dalam kampus. Perjalanannya di dalam menimba ilmu tersendat-sendat dan putus di tengah jalan. Berkat perkenalannya dengan Saint-Simon, sebagai sekretarisnya, pengetahuan Comte semakin terbuka, bahkan mampu mengkritisi pandangan-pandangan dari Saint-Simon. Pada dasarnya Auguste Comte adalah orang pintar, kritis, dan mampu hidup sederhana tetapi kehidupan sosial ekonominya dianggap kurang berhasil. Comte menganut agama Humanitas, dia terpengaruh oleh Laurence. Sosial Statics Dan Sosial Dynamics Menurut Comte social static adalah suatu studi tentang hukum-hukum aksi dan reaksi antara bagian-bagian dari suatu sistem sosial. Social Static merupakan bagian yang paling elementer dari ilmu sosiologi, namun bukan merupakan bagian yang paling penting dari studi mengenai sosiologi karena merupakan hasil dari suatu pertumbuhan. Inilah yang kemudian oleh Comte di definisikan sebagai teori mengenai perkembangan dan kemajuan masyarakat manusia. Atas dasar tingkat perkembangan intelegensi manusia yang lebih tinggi dari binatang munculah dalam sosial dynamics maka adanya perkembangan masyarakat melalui 3 tahap, yaitu: a. Tahap Theologies : segala sesuatu dikaitkan dengan yang supernatural. Ada tiga tahap yakni : Fetheism : segala hal yang terjadi bersumber dari supernatural dan semua benda mempunyai kekuatan jiwa. Polytheism : percaya akan banyaknya dewa dan dipengaruhi oleh animeisme dan dinamisme. Monotheism : gejala-gegala alam berpusat pada kekuatan tunggal yakni Yuhan Yanga Maha Esa. b. Tahap Metaphisik : perantaa dari teologis ke positive. c. Tahap Positvistis/Rasional/Ilmiah : segala sesuatu dibuktikan dengan data empiris. Seorang ilmuan tidak boleh dipengaruhi emosionalnya. B. EMILE DURKHEIM Lahir di Epinal di propinsi Lorraine di Perancis Timur pada 15 April 1858. Collective Consiusness merupakan dasar dari setiap teori-teori Emile Durkeim. Durkheim wafat tanggal 15 November 1917. The Diivision of Labor in Society (1893); The Rules of Sociological Method (1895); Suicede (1897); The Elementari Form of Religious Life (1912) Teori yang dikemikakan oleh Emile Durkheim: 1. Fakta Sosial (The Rule Of Sociological Method) Yaitu seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individu. 2. Teori Bunuh Diri (Suicide) Durkheim memusatkan perhatiannya kepada 3 macam kesatuan sosial yang pokok di dalam masyarakat, yaitu: Bunuh diri di dalam kesatuan agama: rasa ingin menjadi pahlawan. Bunuh diri di dalam kesatuan keluarga: rasa kolektivitas besar. Bunuh diri dalam kesatuan politik. Jenis bunuh diri: a. Bunuh diri egoistis (egoistic suicide) Yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang yang tidak dapat menolak role expectation (peranan yang diharapkan dari dirinya oleh masyarakat). b. Bunuh diri altruistik (altruistic suicide) Yaitu seseorang melakukan bunuh diri karena merasa dirinya menjadi beban masyarakat, dan merasa kepentingan masyarakat lebih tinggi dibandingkan kepentingannya. c. Bunuh diri anomik (anomic suicide) Yaitu bunuh diri yang dilakukan akibat tidak adanya aturan yang mengatur pola sikapnya. d. Bunuh diri fatalistik (fatalistic suicide) Bunuh diri yang disebabkan oleh keadaan putus asa ataupun pasrah pada keadaan disekitarnya. Jika integrasi lemah, bunuh diri naik. Namun, jika integrasi kuat, bunuh diri rendah. 3. Teori Solidaritas (The Division of Labour in Society) a. Solidaritas mekanis (tidak terspesialisasi), ada pada masyarakat tradisional. b. Solidaritas organis (mulai terspesialisasi), ada pada masyarakat modern. Konsekuensi dari mekanis ke organis yaitu individualisme mulai muncul. 4. Teori Tentang Agama (The Elementary Froms of Religious Life) Asal mula agama adalah dari masyarakat itu sendiri. Setiap masyarakat selalu membedakan mengenai hal-hal yang dianggap duniawiyah. Terhadap hal-hal yang dianggap suci manusia selalu membeda-bedakan dengan yang tidak dianggap suci. Agama merupakan perwujudan dari Collective Consciousness sekalipun selalu ada perwujudan-perwujudan yang lain. Dua hal pokok dalam agama menurut beliau yakni apa yang disebut kepercayaan dan apa yang disebut ritus atau upacara-upacara. Kepercayaan adalah merupakan bentuk dari pikiran dan upacara-upacara atau ritus merupakan tindakan. C. KARL MARX Dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Trier di tepi sungai Rhine, beliau seorang keturunan orang borjuis. Namun, Marx dikenal sebagai penentang kaum borjuis. Buku Karl Marx yang tentang pertentangan kelas. Kelas menurut├áterkenal yaitu Das Kapital Marx adalah motor dari segala perubahan serta kemajuan. Hubungan sosial menurut Marx didasarkan posisi masing-masing terhadap sarana produksi. Teori-teori Karl Marx: 1. Teori Dialektika Suatu pandangan mengenai pertentangan antara tesisi dan anti tesisi titik temunya akan membentuk tesis baru yang bertentangan begitu seterusnya atau pertentangan antara dus kelas yakni kelas yang memiliki dan menguasai alat produksi dan kelas yang tidak memiliki dan menguasai alat produksi, hal ini akan berjalan terus kalau belum terbentuk masyarakat utopia (masyarakat sosialis atau komunis). 2. Dinamika Perubahan Sosial perubahan masyarakat melalui revolusioner dimulai dari: a. Tradisional/property: hunting and fishing b. Feodal : tanah sudah mengenal sewa c. Kapitalis : kapital majikan yang menguasai alat-alat produksi dengan buruh di lain pihak. d. Sosialis : yang mempunyai hak milik adalah negara (state). Suatu masa transisi menuju komunis. Pada tahap ini masih ada negara yang mengatur, maka muncul birokrasi rakyat atau dictator ploretariat setelah negara dilebur, maka munculah komunis. e. Komunis : cita-cita tidak mempunyai kuasa dan yang dikuasai. Masyarakat komunis melihat ini sebagai suatu ideology yang harus dilaksanakan. Komunis yang melahirkan masyarakat: tanpa kelas, tanpa milik, tanpa kekuasaan dan tanpa perbedaan 3. Teori Kelas Yaitu sekelompok orang-orang yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama dalam organisasi produksi. Ada tiga kelas masyarakat menurut Marx yaitu: a. Kelas pemilik tanah b. Kelas pemilik modal c. Kelas pekerja 4. Teori Alienasi Bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya tergantung pada kegiatan produktif, dimana orang terlibat dalam mengubah lingkungan fisiknya tetapi sebagai konsekwensinya bahwa manusia harus menyesuaikan diri dengan produksinya itu yang membatasinya sebagai manusia walaupun manusialah yang menciptakan. Empat unsur dasar alienasi: a. Pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari aktivitas produksi mereka. b. Pekerja tidak hanya teralienasi dari aktivitas produksi tetapi juga dari tujuan aktivitas tersebut/ produk. c. Pekerja dalam kapitalisme teralienasi dari sesama pekerja. d. Pekerja dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi kemanusian mereka sendiri. D. MAX WEBER Weber adalah seorang sosiolog yang ahli kebudayaan, ahli politik, hukum, bahkan ekonomi. Weber merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara, lahir pada tanggal 21 April 1864 di Erfurt Jerman. Ia meninggal dunia pada 14 Juni 1920 ketika mengerjakan karya terpentingnya yakni Economy and Society. Dari sekian banyak karyanya yang termasyur antara lain: Wirtschaft und Gessellschaft; Gesammelte Aufsatze zur Wissenschaftlehre. Karyanya yang paling fenomenal yakni Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Teori yang dikemukakan oleh Weber adalah kelas dan status, kekuasaan, dan rasionalitas. 1. Tindakan Sosial Beliau menganggap sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan sosial dengan menguraikannya dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut. Weber memisahkan empat tindakan sosial di dalam sosiologinya, yaitu apa yang disebutnya dengan: a. Rasional instrumental (zweck rational) yakni tindakan sosial yang menyandarkan diri pada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya. b. Rasional berorientasi nilai (wert rational) yakni suatu tindakan sosial yang menyandarkan diri pada suatu nilai-nilai absolut tertentu. c. Afektif/ affectual: yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena doronan atau motivasi yang sifatnya emosional. d. Tradisional yaitu tindakan yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau. 2. Teori Kekuasaan dan Wewenang Kekuasaan menurut weber adalah kemampuan untuk memaksakan kehendak meskipun sebenarnya mendapat tentangan atau tantangan dari orang lain. Tiga jenis legitimasi atau wewenang menurut Weber: a. Wewenang tradisional, Berlandas pada kepercayaan yang mapan terhadap kekudusan, tradisi zaman, serta legitimasi status berdasarkan otoritas. b. Wewenang kharismatik, Mutu luar biasa yang dimiliki seseorang dan tidak dimiliki oleh orang lain. c. Wewenang rasional – legal, Berdasar pada komitmen terhadap seperangkat aturan yang diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal (resmi dan umum). 3. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme Dimana weber meneliti berbagai agama yang ada di dunia dan menemukan sebuah kesamaan dimana keluarga atau negara yang mayoritas memeluk agama Protestan memiliki konsep hidup hemat dan cenderung menjadi lebih kaya dari pada negara yang mayoritas memiliki agama lain. Di awal periode kapitalisme, agen terpenting adalah orang protestan. Dan ini diteliti oleh Max Weber khususnya dalam penggerak kapitalisme, yang salah satunya adalah keyakinan agama mereka yang mengahsilkan motivasi aktivitas pro kapitalis yang berorientasi pada kehidupan duniawi. E. GEORG SIMMEL Lahir tahun 1858 di pusat kota Berlin, ayahnya seorang pedagang Yahudi kaya. Simmel menerima gelar doctor dari Universitas Berlin tahun 1881 dan mulai mengajar di sana tahun 1885. Selama lima belas tahun dia tetap sebagai dosen-privat (privatdozent, yakni dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswa). Kemudian dia menerima gelar “Profesor Luar Biasa”, tetapi hanya merupakan kehormatan belaka tanpa kompensasi uang. Simmel akhirnya meninggalkan Universitas Berlin tahun 1914, untuk menerima posisi sebagai profesor penuh pada Universitas Strasbourg, namun malang kehidupan akademisnya segera terhenti karena pecah perang. Karya atau pemikiran-pemikiran Simmel terpengaruh dari beberapa tokoh. Dalam karyanya On Social Differentiation, Simmel terpengaruh dari model evolusi Spencer. Pembedaan Simmel antara bentuk dan isi terpengaruh pada Filsafat Kant, yaitu seorang ahli filsafat dari Jerman. Pemikiran dialektis yang dikemukakan Simmel merupakan pengaruh analisa dialektik dari Hegel. Teori-teori Simmel yaitu: 1. Pemikiran Dialektis. Yaitu suatu pemikiran dimana individu memiliki hubungan yang bersifat dualistis. Disatu pihak dia merupakan anggota masyarakat dan disosialisasikan di dalam masyarakat tersebut, tetapi pada waktu yang sama dia juga menentang masyarakat itu sendiri. Pemikiran Dialektik merupakan salah satu teori Simmel yang paling terkenal. 2. Interaksi Sosial. Simmel mencoba membedakan bentuk dan isi dari interaksi. Bentuk yang dibedakan dari isinya disebut Sosiabilita. Selain sosiabilita, Simmel juga membedakan tentang Superordinasi dan Subordinasi. Tiga wilayah masalah dalam sosiologi menurut Simmel yaitu: a. Sosiologi murni, tentang variabel-variabel sosialisasi dan interaksi. b. Sosiologi umum yang membahas produk sosial dan cultural. c. Sosiologi filosofis. F. HERBERT SPENCER Dilahirkan di kota Derby Inggris pada 27 April 1820 dan meninggal pada tahun 1930. Spencer membagi masyarakat menjadi dua tipe yaitu masyarakat industri dan masyarakat militer. Herbert terpengaruh oleh teori Darwinisme hingga munculah teori Darwinisme Sosial atas perkenalan Spencer dengan istilah Survival of the Fittest. 1. Teori Darwinisme Sosial (perkembangan masyarakat) : a. Struggule of life b. Survival of the vitaes; bagaimana masyarakat dapat bertahan dari tantangan dan situasi. c. Natural selection; adanya seleksi alam d. Progress Dalam perkembangannya dalam masyarakat terjadilah empat tahap dalam proses penggabungan teori: a. Penggandaan (penambahan) b. Kompleksifikasi c. Pembagian/ diferensiasi d. Pengintegrasian 2. Kebenaran Universal a. Adanya materi yang dapat rusak b. Adanya kesinambungan gerak c. Adanya tenaga dan kekuatan yang terus menerus. G. FERDINAND TONNIES Ferdinand Tonnies lahir pada tahun 1855 dan wafat pada tahun 1936. Ia merupakan salah seorang sosiolog Jerman yang turut membangun institusi terbesar yang sangat berperan dalam sosiologi Jerman. Ferdinand Tonnies memiliki berbagai karya diantaranya Gemeinschaft dan Gesellschaft (yang dipublikasikan pertamakali pada tahun 1887) 1. Teori Masyarakat a. Zweckwille, yaitu kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan. Zweckwille, apabila orang hendak mencapai suatu tujuan tertentu dan mengambil tujuan rasional kearah itu. Lebih menonjol di kalangan pedagang, ilmuwan dan pejabat-pejabat umumnya orang tua yang bersikap lebih rasional dan berkepala dingin daripada orang muda. b. Kurwille, yaitu dorongan batin berupa perasaan. Triebwille bersumber pada selera perasaan, kecenderungan psikis, kebutuhan biotis, tradisi atau keyakinan orang. paling menonjol dikalangan petani, orang seniman, rakyat sederhana, khususnya wanita dan generasi muda. 2. Gemeinschaft dan Gesselchaft 1. Teori Gemeinschaft (paguyuban) Merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. 2. Teori Gesselschaft (patembayan) Merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan dengan sebuah mesin. 3. Teori evolusi tanpa kemajuan Evolusi terjadi secara berlawanan dengan kebutuhan manusia, lebih menuju kearah memperburuk ketimbang meningkatkan kondisi kehidupan manusia. 4. Teori nilai Menurut Tonnies, “Kehidupan bersama berasal dari kemauan manusia.” tentang bagaimana etika yang ada dalam masyarakat dan bagaimana estetika yang di hargai IBNU KHALDUN (1332-1406 ) Latar Belakang Pendidikan Ibnu Khaldun Seorang sarjana sosiologi dari Italia, Gumplowiez melalui penelitiannya yang cukup panjang, berpendapat, ”Kami ingin membuktikan bahwa sebelum Auguste Comte (1798-1857M) dan Giovani Vico (1668-1744M) telah datang seorang muslim yang tunduk pada ajaran agamanya. Dia telah mempelajari gejala-gejala sosial dengan akalnya yang cemerlang. Apa yang ditulisnya itulah yang kini disebut sosiologi. (Gumplowiez, Ibnu Khaldun, Arabischersoziologe des 14 jahrundert. Dalam ‘Sociologigsche Essays:PP.201-202). Sejarawan dan Bapak Sosiologi Islam ini dari Tunisia. Ia keturunan Yaman dengan nama lengkapnya Waliuddin bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin Al Hasn. Namun ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Khaldun. Keluarganya berasal dari Hadramaut (kini Yaman) dan silsilahnya sampai pada seorang sahabat Nabi Muhammad Nabi Muhammad SAW. bernama Wail bin Hujr dari kabilah Kindah, salah seorang cucu Wail, Khalid bin Usman, memasuki daerah Andalusia bersama orang-orang arab penakluk pada tahun ke-3 H(9 M). Anak cucu Khalid bin Usman membentuk satu keluarga besar bernama Bani Khaldun, dari bani inilah asal nama Ibnu Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 M (1 Ramadhan 732 H), tetapi sebenarnya ia dari Seville,Spanyol. Sejak kecil, ia sudah hafal Al-Qur’an. Di tanah kelahirannya itu ia mempelajari syari’at (tafsir, hadits, tauhid, fiqih) fisika dan matematika. Saat itu Tunisia telah menjadi pusat perkembangan ilmu di Afrika Utara. Sejak usia muda,ia sudah mengikuti kegiatan politik praktis. Situasi politik yang tidak menentu di Tunisia, menyebabkan Ibnu Khaldun melakukan pengembaraan dari Maroko sampai Spanyol. Pada tahun 1375, beliau pindah ke Granada, Spanyol. Karena keadaan politik Granada tidak stabil ia menetap di Qal’at Ibnu Salamah di daerah Tilmisan,ibukota Maghrib Tengah (Aljazair) dan meninggalkan dunia politik praktis. Tahun 746 H, studinya terhenti akibat terjangkitnya penyakit Pes di sebagian besar belahan dunia bagian timur dan bagian barat. Banyak korban akibat dari penyakit yang sedang melanda itu. Karena situasinya berubah, akhinya Ibnu Khaldun mencari kesibukan kerja serta mengikuti jejak kakeknya untuk terjun ke dunia politik. Berkat komunikasinya dengan tokoh-tokoh dan ulama terkemuka setempat telah banyak membantunya mencapai jabatan tinggi. Pemikiran Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun mengemukakan pemikiran baru yang menyatakan bahwa sistem sosial manusia dapat berubah seiring dengan kemampuan pola berpikir mereka, keadaan muka bumi di sekitar mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri. Beliau juga berpendapat bahwa pola pemikiran masyarakat berkembang secara bertahap yang dimulai dari tahap primitif, pemilikan, peradaban, kemakmuran dan kemunduran (keterpurukan). Pemikiran Ibnu Khaldun dikagumi oleh tokoh sejarah keturunan Yahudi, Prof. Emeritus, Dr. Bernerd Lewis yang mengukuhkan tokoh ilmuwan itu sebagai ahli sejarah arab yang hebat pada abad pertengahan. Felo Amat Utama Akademik Institut Antarbangsa Pemikiran dan Ketamadunan (ISTAC), University Islam Antarbangsa Malaysia (UIAM), Muhammad Uthman El-Muhammady juga melihat pendekatan (pemikiran) Ibnu Khaldun secara mendunia. Karya Ibnu Khaldun yang menakjubkan (Mukaddimah) membuat beliau mendapat gelar Prolegomena atau pengenalan pada berbagai ilmu perkembangan kehidupan manusia di kalangan ilmuwan barat. Dari situ, Ibnu Khaldun mengutarakan pandangannya untuk memperbaiki kesalahan dalam kehidupan, menjadikan karya beliau seperti ensiklopedia yang mengisahkan berbagai perkara dalam kehidupan sosial manusia. Kajian yang dilakukan Ibnu Khaldun tidak hanya mencakup kisah kehidupan masyarakat saat itu, tetapi juga merangkum sejarah umat terdahulu. Selain sebagai ilmuwan dalam bidang ilmu sosial, Ibnu Khaldun mampu menjalankan tugas dengan baik saat dilantik sebagai kadi (wali agama) ketika menetap di Mesir. Kebijaksanaan beliau mendorong Sultan Burquq yaitu Sultan Mesir pada waktu itu, memberi gelar Waliuddin kepada Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun juga memajukan konsep ekonomi, perdagangan, kebebasan, beliau terkenal karena hasil kerjanya dalam bidang sosiologi, astronomi, numerologi, kimia serta sejarah. Beliau berpendapat bahwa tugas kerajaan hanya mempertahankan rakyatnya dari kejahatan, melindungi harta rakyat, memberantas penipuan dalam perdagangan dan mengurus pemasukan kas negara (upeti/ pajak). Pemerintah juga melaksanakan kepemimpinan politik yang bijaksana dengan keterpaduan sosial dan kekuasaan tanpa adanya paksaan. Dari segi ekonomi, Ibnu Khaldun memajukan teori nilai dan keterkaitan hubungan dengan tenaga kerja, mengenalkan pembagian kerja, membantu pemasaran terbuka,menyadari kesan dinamik permintaan dan modal penjualan serta keuntungan. Wacana atau pemikiran Ibnu Khaldun juga diterapkan dalam kehidupan masyarakaat modern yang ingin mengimbangi pembangunan fisik dan spiritual. Secara teori,ilmu itu dikaitkan dengan persoalan manusia dalam masyarakat dan para ahli sosiologi berharap ilmu itu dapat menjalin keterpaduan serta membentuk pembenahan krisis moral yang dihadapi masyarakat saat ini. Walaupun istilah sosiologi ditemukan oleh tokoh sosiologi kelahiran Perancis abad ke 19 yaitu Auguste Comte, tetapi kajian mengenai kehidupan sosial manusia sudah diurai oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukaddimah, 500 tahun lebih awal, pada usianya 36 tahun. Karya-karya Ibnu Khaldun Sebagai sejarawan dan filsuf, ia memusatkan perhatiannya pada kegiatan menulis dan mengajar. Saat itulah karya besar lahir dari tangannya, yaitu : 1. Sebuah kitab Al-Ibrar wa Diwan Al-Mubtada’ wa Al-Khabar fi Ayyamal Al-‘Arab wa Al-Ajam wa al-Barbar atau yang sering disebut Al-Ibrar (Sejarah Umum), terbitan Kairo tahun 1284. Kitab ini terdiri atas 7 jilid yang berisi tentang kajian sejarah yang didahului oleh Muqaddimah (jilid I), yang berisi tentang pembahasan masalah-masalah sosial manusia. 2. Muqaddimah (yang sebenarnya merupakan pembuka kitab Al-Ibrar) popularitasnya melebihi kitab itu sendiri. Muqaddimah membuka jalan menuju pembahasan ilmu-ilmu sosial. Menurut pendapatnya, politik tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan, dan masyarakat dibedakan atas masyarakat desa (hadarah) dan kota (badawah). Oleh karena itu Ibnu Khaldun dianggap sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. 3. Sejumlah kitab yang bernilai tinggi diantaranya At-Ta’rif bi Ibn Khaldun (autobiografi, catatan dan kitab sejarahnya) dan kitab teologi yaitu Lubabal Al-Muhassal Afkar Usul Ad-Din (ringkasan dari kitab Muhassal Afkar Al-Muttaqaddimin wa Al-Muta’akhirin karya Imam Fakhrudi Ar-Razi dan memuat pendapatnya tentang masalah teologi). Pengertian Sosiologi Dalam Muqaddimah ini pula Ibnu Khaldun menampakkan diri sebagai ahli sosiologi dan sejarah. Menurutnya sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang solidaritas sosial. Teori pokoknya dalam sosiologi umum dan politik adalah konsep ashabiyah (solidaritas sosial). Asal-usul solidaritas sosial adalah ikatan darah yang disertai kedekatan hidup bersama. Hidup bersama juga dapat mewujudkan solidaritas yang sama kuat dengan ikatan darah. Menurutnya, solidaritas sosial sangat kuat terlihat dalam masyarakat pengembara, karena corak kehidupan mereka yang unik dan kebutuhan mereka untuk saling membantu. Relevansi teori ini misalnya dapat ditemukan pada teori-teori tentang konsiliasi kelompok-kelompok sosial dalam menyelesaikan konflik tantangan tertentu. Relevansi teori Khaldun, misalnya juga dapat ditemukan dalam teori Ernest Renan tentang kelahiran bangsa. Tantangan yang dihadapi masyarakat pengembara dalam teori Khaldun tampaknya,meski tidak semua, paralel dengan “kesamaan sejarah” embrio bangsa dalam teori Ernest Renan. Kebutuhan untuk saling membantu mengatasi tantangan ini juga me miliki relevansi dalam kajian psikologi sosial terutama berkenaan dengan kebutuhan untuk mengikatkan diri dengan borang lain atau kelompok sosial yang lazim disebut afiliasi. PERKEMBANGAN MUTAKHIR DALAM TEORI SOSIOLOGI Sebagaimana telah disebutkan, Ritzer (1992) mencatat perkembangandalam teori sosiologi yang menurutnya berlangsung sejak tahun 80-an,terutama di Amerika Serikat. Ritzer mencurahkan perhatian pada tigaperkembangan, yaitu meningkatnya perhatian terhadap (1) kaitan mikro-makro(micro-macro linkage) dalam sosiologi di Amerika Serikat, (2) hubungan antaraagency dan structure dalam sosiologi di Eropa, dan (3) sintesis teori.Menurut ritzer teori sosiologi di Amerika Serikat ditandai oleh apa yangdinamakan ekstremisme mikro-makro (micro-macro extremism), yaitu konflikantara teori dan teoretikus ekstrem mikro dan enktrem makro. Kalau paraperintis seperti Marx, Durkheim dan Weber mempunyai perhatian besar terhadap keterkaitan terhadap keterkaitan antara mikro-makro, makamenurutnya para ahli sosiologi abad 20 si Amerika telah meninggalkanperhatian mereka terhadap keterkaitan tersebut dan secara ektrem telah membatasi diri pada salah satu jenjang saja-mikro ataupun makro (extrememicroscopic and macroscopic theories). Dipihak ekstrem makro Ritzer menggolongkan fungsionalisme struktural, teori konflik, beberapa verietas teoriNeo-Marxis dan strukturalisme sedangkan dikubu ekstrem mikro iamegidentifikasi interaksionalisme simbolik, fenomenologi, etnometodologi,sosiologi eksistensial, sosiologi perilaku dan teori pertukaran (lihat Ritzer,1992:397-510).Namun sejak tahun 80-an dalam sosiologi Amerika telah terjadi gerakankearah integrasi mikro-makro. Ritzer (1992:399) mengutip berbagai pernyataanahli sosiologi yang intinya ialah bahwa pertentangan antara teori mikro danmakro kini telah berakhir, bahwa satu teori tidak bersifat lebih mendasar daripada teori yang lain, dan bahwa antara keduanya dijumpai kesalingterkaitan timbal balik.Sebagai contoh mengenai integrasi mikro-makro, Ritzer menyajikanpokok pemikirannya sendiri mengenai paradigma sosiologi terpadu (integratedsociological paradigm). Dengan mengkaitkan dimensi mikro-makro dengandimensi objektif-subjektif Ritzer menyimpulkan bahwa analisis sosial dapatdilakukan pada empat jenjang : (1) jenjang makro-mikro objektif (misalnya :kaljian terhadap masyarakat, hukum, birokrasi), (2) makro-subjektif (misalnyakajian terhadap kebudayaan, arutan, nilai), (3) mikro-objektif (mislnya kajianterhadap pola prilaku, tindakan, interaksi), dan (4) mikro-subyektif (sepertikajian terhadap konstruksi sosial terhadp realitas).Contoh lain yang disajikan Ritzer mengenai integrasi makro-mikro ialahpokok pikiran Alexander, Wiley, Coleman, Collins, dan Berger-Eyre-Zelditch, Jr.Ritzer mengedentifikasikan berbagai titik persamaan dalam pemikiran-pemikiran tersebu, meskipun diantara mereka dijumpai pula perbedaan pentingdalam hal penekanan yang masih mengingatkannya pada perbedaan makro-mikro dimasa lalu.Kalau ahli sosiologi di Amerika mengupayakan integrasi makro-mikro,maka menurut Ritzer para ahli sosiologi di Eropa mengupayakan integrasiagency-structure. Menurut Ritzer kedua klasifikasi tersebut tidak dapat disamakan, karena konsep mikro tidak selalu sama dengan agen, dan makropun tidak selalu sama dengan struktur. Berbeda dengan klasifikasi makro-mikrodalam sosiologi di Amerika, maka konsep agency di Eropa dapat mengacu baikpada perilaku individu mapun pada kolektiva (kelompok, organisasi, nasion)dan kelas sosial, sedangkan konsep struktur dapat mengacu pada struktur sosial berskala besar maupun pada struktur mikro seperti interaksi manusia(lihat Ritzer, 1992:425-456).Untuk memperlihatkan adanya hasrat mengintegrasikan berbagai jenjang analisis di Eropa, Ritzer mengajukan sejumlah kasusupaya integrasi.Karya yang dijadikannya acuan antara lain pokok pikiran Giddens, Aecher,Boudieau, dan Habermas.Sintesis antara berbagai teori sosiologi merupakan kecendrungan ketigayang menurut Rizer berlangsung secara gencar sejak tahun 80-an. Upayasitesis yang didefenisikan Ritzer (1992:457-510) dijumpai dalam fungsionalismedalam bentuk neofungsionalisme (neofunctionalisme) yang dipelopori Alexander. Dalam teori konflik berlangsung sintesis dengan mikro-sosiologi.Dalam teori neo-maksis dijumpai sintesis dengan berbagai pendekatan non-Marxis seperti ide posmodermisme. Interaksionisme simbolik yang siapbersintesis dengan berbagai pendekatan lain seperti pemkiran Durkheim,Weber, Simmel, dan Marx. Fenomenologi serta ernometodologi mulai dijajakisintesis dengan interaksionalisme simbolik.Teori yang mengkhususkan diri pada interaksi sosial mula-mulabersumber pada pemikiran para tokoh sosiologi klasik dari Eropa seperti GeorgSimmel dan Max Weber. Ciri-Ciri dan Hakikat Sosiologi Sosiologi merupakan salah satu bidang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu telah memenuhi semua unsur ilmu pengetahuan. Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut. Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga). Teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori. Komulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama. Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam. Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut. Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalah gejala-gejala kemasyarakatan. Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakan disiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadian saat ini dan bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan terapan. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri. Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini menyangkut metode yang digunakan. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejala-gejala umum yang ada pada interaksi antara manusia. Tujuan mempelajari ilmu sosiologi Tujuan Mempelajari Ilmu Sosiologi adalah Untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola - pola umum, karena sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip atau hokum - hukum umum dari interaksi antar manusia dan juga perihal sifat hakekat, bentuk, isi dan struktur masyarakat. Oleh karena itu diharapkan ilmu sosiologi dapat memberikan wawasan akademis maupun praktik. 
Daftar pustaka 
Sunarto, kamanto.(2000). Pengantar Sosiologi. jakarta : Fakultas ekonomi Universitas Indonesia. www.google.com/www.kedipmata.com/sifat-sifat-dasar-sosiologi/ www.google.com/alfinnitihardjo.ohlog.com/manfaat-sosiologi.oh112672.html www.google.com/id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi#Ciri-Ciri_dan_Hakikat_Sosiologi www.google.com/sosial-social.blogspot.com/2012/03/7-tokoh-sosiologi-kl

No comments:

Post a Comment